Senin, 08 April 2013

Eksotesme Amuntai

Kabupaten Hulu Sungai Utara dengan ibukota Amuntai memiliki cukup banyak lokasi yang dapat dijadikan sebagai obyek wisata, baik itu berupa Wisata Alam, Wisata Buatan, Wisata Religius, Wisata Sejarah/Wisata Budaya, dan Wisata Adat yang cukup potensial untuk dikembangkan.
Kota Amuntai, Ibukotanya Kabupaten Hulu Sungai Utara diapit dua sungai yaitu sungai Tabalong dan Balangan. Untuk wisata kota, wisatawan dapat mengunjungi Masjid Raya Amuntai, Pantai Amuntai atau melongok Taman Kota Junjung Buih, berkunjung ke Monumen Perjuangan/melihat Monumen Itik Alabio yang menghiasi kota.
1.      Candi Agung
Candi Agung Amuntai yang menjadi salah satu obyek wisata paling favorit bagi masyarakat Amuntai. Obyek ini terletak di Desa Sungai Malang, Kecamatan Amuntai Tengah.
Candi Agung Amuntai merupakan peninggalan Kerajaan Negaradipa Khuripan yang dibangun oleh Empu Jatmika abad ke XIV Masehi. Dari kerajaan ini akhirnya melahirkan Kerajaan Daha di Negara dan Kerajaan Banjarmasin. Menurut cerita, Kerajaan Hindu Negaradipa berdiri tahun 1438 di persimpangan tiga aliran sungai. Tabalong, Balangan, dan Negara. Cikal bakal Kerajaan Banjar itu diperintah oleh Pangeran Surianata dan Putri Junjung Buih dengan kepala pemerintahan Patih Lambung Mangkurat.
Negaradipa kemudian berkembang menjadi Kota Amuntai.
Candi Agung diperkirakan telah berusia 740 tahun. Di candi ini juga ditemukan beberapa benda peninggalan sejarah yang usianya kira-kira sekitar 200 tahun SM. Batu yang digunakan untuk mendirikan Candi ini pun masih terdapat disana.
2.      Lomba Renang Kerbau Rawa
Menyaksikan lomba renang unik yaitu lomba renang Kerbau Rawa yang menjadi atraksi yang menarik. Perlombaan kerbau rawa itu persis seperti perlombaan atau atraksi karapan sapi di Madura, tetapi lomba karapan sapi di lahan kering atau lapangan luas sementara lomba kerbau rawa di hamparan berair yang penuh dengan tanaman rawa.

Lomba kerbau rawa tersebut, biasanya diselanggarakan pada setiap perayaan hari kemerdekaan RI, di lokasi yang sudah disediakan di kawasan tersebut, sehingga bagi turis mudah melihat atraksi lomba kerbau rawa itu. Tetapi, bukan hanya atraksi lomba kerbau rawa yang menjadi daya pikat wisatawan khususnya wisatawan mancanegara ke daerah itu, yang menarik mereka jusru menyaksikan usaha peternakan kerbau itu yang dinilai rada unik. Berdasarkan catatan, kerbau rawa (Bubalus carabanensis) yang pula disebut sebagai kerbau (hadangan) kalang, karena kehidupan kerbau-kerbau ini berada di atas kalang di atas rawa.
3.      Amuntai Jual Kerajinan
Tempat wisata pasar kerajinan dan sentra industri meubel yang berlangsung subuh Kamis merupakan kegiatan transaksi hasil-hasil kerajinan para pengrajin yang ada di Hulu Sungai Utara. Matahari belum lagi terbit. Namun, ratusan pengrajin sudah berduyun-duyun menuju jalan depan Rumah Sakit Pambalah Batung Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Mereka kemudian menjejer barang bawaannya di tepi jalan dengan rapi seperti ada yang mengatur.
Mungkin fenomena itu hanya ada di Amuntai. Sebuah "pameran on the road" yang diselenggarakan rakyat kecil yang berprofesi sebagai perajin. Mereka datang dari segala penjuru, mulai dari darat hingga hulu sungai, tanpa ada yang memberi komando. Barang bawaan mereka beraneka macam, mulai dari yang benar-benar tradisional hingga yang modern. Mulai dari desain kerajinan yang khas desa hingga sudah tersentuh "desain kota" yang biasanya diperuntukkan bagi ekspor.
"Pokoknya semua jenis anyaman ada di sini dan jika belum ada, bisa dibuatkan. Barangnya seperti apa, silakan ditunjukkan ke kami, pasti kami bisa membuatkannya berdasarkan gambar itu," kata Mastur, perajin dari Palimbangan, Kecamatan Amuntai Utara.
4.      Monumen Kota Bebek Alabio
Kota Amuntai juga dikenal sebagai Kota Agrowisata Bebek Alabio. Oleh karena itu, di tengah kota terdapat sebuah patung bebek sebagai landmark kota ini. Namanya Monumen Bebek Alabio.
Di kota Amuntai ini berdiri Monumen Itik Alabio dengan megah. Menurut beberapa orang yang pernah merasakan masakan Bebek Alabio, rasanya tiada tara.
5.      Pasar Itik Alabio
RABU dini hari, Pasar Itik Alabio di Hulu Sungai Utara, sudah menggeliat. Lalu lintas mulai padat. Sepeda onthel, sepeda motor, mobil angkutan desa, mobil pikap, truk, gerobak, perahu, dan manusia lalu lalang membawa tiga jenis barang dagangan: itik, telur itik, dan pakan itik.
Nama itik alabio yang tersohor di seluruh Nusantara karena produktivitas telurnya itu memang berasal dari nama pasar itik di tepi sungai itu. Bagi masyarakat Hulu Sungai Utara (HSU), itik alabio adalah penyangga ekonomi rakyat.
Sekurangnya 14.000 keluarga bergantung kepada rantai bisnis 1,2 juta ekor itik. Beternak itik bagi sebagian orang HSU adalah seni turun-temurun. Keahlian itu sulit diajarkan kepada orang lain karena sebagian mengandalkan ketajaman insting dan kepekaan perasaan semata. Untuk membedakan jenis kelamin anak itik, peternak hanya mendengarkan suaranya. "Kalau kwak-kwak pasti jantan, kalau kwik-kwik berarti betina," kata Saiman yang dijuluki "doktor" itik karena keahliannya menangguh (membedakan jantan-betina).
6.      Itik Alabio Desa Mamar
Pada kecamatan Amuntai Selatan yakni di desa Mamar sering mendapat kunjungan khususnya bagi mereka yang berkepentingan dengan kegiatan pengembangan dan perdagangan hasil-hasil ternak itik.
Bagi kabupaten Hulu Sungai Utara yang memiliki ternak itik yang khas daerah yakni itik Alabio, maka adanya sentra ternak itik Alabio di desa Mamar ini menjadi trade mark yang dikenal oleh daerah lainnya.

7.      Sulaman Bordir Desa Teluk Betung
Kerajinan sulaman bordir yang turun-temurun di desa Teluk Betung kecamatan Sungai Pandan menjadi ciri khas daerah ini yang sering dikunjungi.
8.      Lapangan Golf Air Tawar Indah
Di kecamatan Amuntai Utara ini yakni di desa Tayur terdapat lapangan golf Air Tawar Indah yang dibangun oleh pemerintah daerah sebagai tempat rekreasi dan olahraga yang sering dikunjungi khususnya yang memiliki kegemaran golf.
9.      Masjid Jami Sungai Banar
Masjid Jami Sungai Banar terletak di tepi Sungai Banar, sekitar 3 km dari Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Tepatnya, di perbatasan Desa Jarang Kuantan dan Desa Ujung Murung (sebelumnya masuk Desa Ilir Masjid).
Masjid pertama di Amuntai ini berdiri pada tahun 1804 M (1218 H). Terdokumentasi dalam catatan pahatan pada bedug yang masih dimanfaatkan.
Dikisahkan, sejumlah warga Amuntai yang sedang berguru kepada Waliyullah Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (1710-1812M) di Martapura, menerima saran dari Syekh agar dibangun sebuah masjid di wilayah Amuntai. Kebetulan saat itu memang belum ada masjid. Selain itu Sang Wali juga memberikan sebuah Kitab Suci Al Qur’an tulisan tangan.
10.  Mesjid Raya
Masjid Raya Amuntai terletak di Kota Amuntai, Ibukota Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).Masjid megah berpintu gerbang tinggi ini didominasi warna cokelat. Beda dengan kebanyakan masjid pada umumnya yang bercat putih.
Keunikan lainnya, terlihat dari atap masjid ini yang menggunakan atap rumah adat Kalimantan Selatan. Masjid ini dikeililingi taman yang luas dan hijau. Kondisi itu membuatnya semakin enak dipandang mata. Tak berlebihan, kalau masjid ini menjadi kebanggaan warga Kota Amuntai.


11.  Makam Datu Syekh Sayid Sulaiman
Di kecamatan Amuntai Utara tepatnya di desa Pakacangan, adanya makam Datu Syekh Sayid Sulaiman yang merupakan makam keramat merupakan lokasi yang sering mendapat kunjungan.

Kayuh Baimbai Mambangun Banua”
Sumber : Media Online (Internet)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar